Tugas 3 : Kriptografi Klasik Oleh (Afrian)

 Kriptografi Klasik


Kriptografi klasik adalah kriptografi dalam pembuatannya maupun analisisnya sama sekali tidak melibatkan komputer atau perangkat mesin. Alat-alat yang digunakan berkutat pada pemanfaatan kertas, pena, batu, serta alat-alat lain yang tidak tergolong dalam perangkat mesin modern sama sekali.


 Ciri khas dari kriptografi klasik ialah 

Berbasis karakter

Menggunakan pena dan kertas saja, belum ada computer

Termasuk ke dalam kriptografi kunci simetris.


 Semua alogaritma kriptografi (chipper) dari kriptografi klasik termasuk dalam sistem kriptografi yang bersistem simetris. Teknik enkripsi pada kriptografi klasik semuanya sama seperti kunci enkripsi. Maksudnya, untuk memahami sebuah teks tersembunyi dapat dilakukan secara serupa seperti saat pembuatannya.


Sejarah Kriptografi

Kriptografi menurut catatan sejarah telah eksis sejak masa kejayaan Yunani atau kurang lebih sekitar tahun 400 Sebelum Masehi. Alat yang digunakan untuk membuat pesan tersembunyi di Yunani pada waktu itu disebut Scytale. Scytale berbentuk batangan silinder dengan kombinasi 18 huruf.


Pada masa Romawi, di bawah kekuasaan Julius Caesar, penggunaan kriptografi semakin intens karena pertimbangan stabilitas negara. Meski teknik yang digunakan tak serumit Yunani, namun untuk memahami pesan kriptografi dari masa Romawi terbilang cukup sulit untuk dikerjakan.


Berdasarkan aspek historis kriptografi di atas, baik kriptografi klasik maupun modern keduanya memiliki kesamaan prinsip yang besar dan tidak dapat disangsikan lagi, yakni tujuan kriptografi adalah keamanan. Itulah layanan yang disediakan kriptografi tanpa peduli dari masa mana kriptografi.


Algoritma Kriptografi :


Ada tiga fungsi dasar di dalam algoritma kriptografi, antara lain; enkripsi, dekripsi, dan kunci. Enkripsi berarti proses penyembunyian data pesan, mengubah plaintext menjadi chipertext. Sedangkan dekripsi merupakan kebalikan dari enkripsi, bertujuan untuk memahami pesan yang ada, dan kunci adalah teknik yang digunakan untuk enkripsi maupun dekripsi


Ada beberapa syarat dimana algoritma kriptografi dikategorikan menjadi algoritma yang baik dan memenuhi syarat yaitu :

1. Kerahasiaan

Dimana adanya jaminan bahwa pesan tersebut hanya dapat dibaca oleh pihak yang berwenang membaca pesan tersebut.

2. Autentikasi

Pengirim pesan harus dapat diidentifikasi dengan pasti dan memastikan penyusup tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain.

3. Integritas

Penerima pesan harus dapat memastikan bahwa pesan yang dia terima tidak dimodifikasi pada saat proses transmisi data.

4. Non-Repudiation

Pengirim pesan harus tidak bisa menyangkal pesan yang dia kirimkan.Selain 4 kategori diatas, claude shannon seorang penemu dibidang teknologi informasi pernah mengatakan bahwa algoritma kriptografi harus memiliki kekuatan untuk melakukan konfusi difusi. Konfusi adalah kondisi dimana mengaburkan hubungan antara plaintext dengan chipertext. Difusi adalah menyebarkan redudansi plaintext dengan menyebarkan masukan ke seluruh chipertext. Konfusi dan difusi akan menjadi penting dan memperkuat tujuan dari proses enkripsi yang dilakukan sehingga tidak akan mudah untuk membobol sebuah informasi dan kemanan akan informasi semakin kuat.


Pada dasarnya, algoritma kriptografi klasik dapat dikelompokkan ke dalam dua macam cipher, yaitu :


Cipher substitusi (substitution cipher)

Di dalam cipher substitusi setiap unit plainteks diganti dengan satu unit cipherteks. Satu “unit” di isini berarti satu huruf, pasanga huruf, atau dikelompokkan lebih dari dua huruf. Algoritma substitusi tertua yang diketahui adalah Caesar cipher yang digunakan oleh kaisar Romawi , Julius Caesar (sehingga dinamakan juga casear cipher), untuk mengirimakan pesan yang dikirimkan kepada gubernurnya.


Cipher transposisi (transposition cipher)

Pada cipher transposisi, huruf-huruf di dalam plainteks tetap saja, hanya saja urutannya diubah. Dengan kata lain algoritma ini melakukan transpose terhadap rangkaian karakter di dalam teks. Nama lain untuk metode ini adalah permutasi atau pengacakan (scrambling) karena transpose setiap karakter di dalam teks sama dengan mempermutasikan karakter-karkater tersebut.

sumber : https://onlinelearning.uhamka.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 1 Afrian : Pengantar Kecerdasan Tiruan 4C23

TUGAS 2 [Afrian] Kriptografi dan Keamanan Informasi 4C23